oleh: Andrias Harefa*
“Apakah habitus orang kaya yang paling umum?” tanya saya kepada sejumlah kawan. “Mereka super pelit,” kata Iin. “Orang kaya yang saya kenal banyak yang sombong,” jawab Toni. “Selalu memperhitungkan segala sesuatunya dengan cermat,” kata Herlina. “Tidak suka berhutang,” ujar Didi. “Suka menawar harga barang yang ingin dibelinya,” jelas Diah. “Mereka suka memamerkan kekayaannya,” kata Rudy. “Cenderung serakah dan asosial,” gagas Yuyun. “Hanya membeli barang-barang bermerek terkenal,” ujar Lilik. “Hidup hemat, cenderung pelit, dan tidak suka menunjukkan kemampuan mereka yang sebenarnya,” papar Dewi. “Suka bangun siang dan tidur dini hari,” kata Indra.
***
Manusia membangun habitus secara perlahan. Dan kemudian habitus itu membentuk nasibnya. (Pandir Karya)
“Habitus (Latin) bisa berarti kebiasaan, tata pembawaan, atau penampilan diri, yang telah menjadi insting perilaku yang mendarah daging, semacam pembadanan dari kebiasaan kita dalam rasa-merasa, memandang, mendekati, bertindak, atau berinteraksi dalam kondisi suatu masyarakat… bersifat spontan, tidak disadari pelakunya apakah itu terpuji atau tercela, seperti orang tak sadar akan bau mulutnya. Ia bisa menunjuk seseorang, tapi juga kelompok sosial,” demikian antara lain penjelasan B. Herry-Priyono (Kompas, 31 Desember 2005).
Perhatikan bahwa habitus “…telah menjadi insting perilaku yang mendarah daging”, “bersifat spontan”, “tidak disadari pelakunya”, dan bisa menunjuk kepada “kelompok sosial” tertentu. Nah, dengan pemahaman ini, mari kita coba pikirkan, apa sajakah habitus kelompok sosial ekonomi atas (baca: orang-orang kaya dan super kaya) yang telah menjadi insting perilaku yang mendarah daging, bersifat spontan, dan tidak disadari pelakunya (baca: bersifat reflek)?
Dari studi literatur tentang kecenderungan perilaku orang-orang kaya di Amerika dan Asia, serta dari pengamatan pribadi mengenai perilaku sejumlah kawan yang kaya di Indonesia, sekurang-kurangnya bisa disebutkan beberapa habitus yang saling kait mengait satu sama lain sebegai berikut.
Habitus pertama, dan boleh jadi ini yang terpenting, mereka menikmati hidup dengan standar jauh dibawah kemampuan mereka yang sebenarnya. Artinya, secara keuangan mereka lebih kuat dari apa yang nampak oleh mata lingkungannya. Mereka lebih kaya dari apa yang mungkin dipikirkan orang lain di sekitar mereka (tetangganya). Bila mereka sesungguhnya mampu membeli rumah seharga Rp 10 miliar, maka mereka senang memilih rumah seharga Rp 1 miliar. Jika mereka mampu membeli mobil seharga Rp 2 miliar, mereka senang memilih mobil seharga Rp 600 juta saja. Sekalipun mereka lebih dari mampu membeli barang-barang yang dipajang di butik-butik eksklusif atau pertokoan mewah macam Sogo Departemen Store, mereka tidak sungkan untuk berbelanja di pusat belanja grosir seperti di ITC Mangga Dua.
Seorang kawan yang saya duga memiliki harta kekayaan bersih lebih dari Rp 20 miliar dan tinggal di kawasan Karawaci, Tangerang, pernah mengatakan kepada saja bahwa, “Saya menganut pandangan bahwa apa pun yang kita gunakan dan nampak oleh orang lain seharusnya tidak lebih dari sepertiga kekuatan kita yang sesungguhnya. Dan kalau saya bisa menggunakan sepertigapuluh atau bahkan sepertigaratus dari kemampuan finansial saya untuk hidup nyaman, itu sudah cukup. Saya tidak suka dikenal terutama sebagai orang kaya. Saya lebih suka dikenal sebagai orang yang berkarya”. Pernyataan ini dengan tegas menunjukkan bahwa ia menikmati hidup dibawah kemampuan yang sesungguhnya.
Karena terbiasa hidup dibawah kemampuan yang sesungguhnya, maka mereka—orang-orang kaya tersebut—selalu memastikan bahwa biaya konsumsi mereka jauh dibawah penghasilan rutin yang mereka peroleh. Itulah habitus kedua. Jika mereka memperoleh penghasilan rutin (katakan saja) Rp 30-40 juta per bulan, maka mereka telah membiasakan diri untuk hanya menggunakan sekitar Rp 10-15 juta per bulan untuk memenuhi kebutuhan bulanan keluarganya. Dan ketika penghasilan mereka meningkat menjadi Rp 60-70 juta per bulan pun, mereka tidak merasa perlu untuk mengubah pola konsumsi mereka. Dalam hal ini yang meningkat secara langsung adalah jumlah tabungan untuk investasi, karena biaya konsumsi relatif tetap.
Habitus yang ketiga adalah kebiasaan menyisihkan dana untuk tabungan dan investasi dulu, dan menyisakan yang lainnya untuk konsumsi rutin setiap bulannya. Jadi bukannya menggunakan penghasilannya untuk konsumsi dan kalau akhir bulan masih tersisa baru ditabung dan diinvestasikan. Dengan kata lain, mereka terbiasa untuk mencurahkan cukup banyak waktu untuk memikirkan soal kemana dan bagaimana uang mereka ditabung dan diinvestasikan agar berkembang lebih maksimal. Mereka tidak memberikan banyak waktu untuk memikirkan cara-cara menggunakan uang secara konsumtif, untuk berbelanja berlama-lama di pusat-pusat pembelanjaan. Sebaliknya, mereka memberikan banyak waktu untuk memikirkan hal-hal yang membuat harta mereka menjadi makin produktif, tumbuh dan berkembang, sehingga mereka menjadi mapan secara keuangan.
Setiap kali saya mengingat sejumlah perbincangan ketika berkesempatan mewawancarai atau sekadar mendengarkan nasihat orang-orang seperti Mochtar Ryadi, Ir. Ciputra, Bob Sadino, Jonathan L. Parapak, dan Soen Siregar, saya merasakan bagaimana ketiga habitus yang disebut di atas telah terpatri menjadi bagian dari tarikan nafas orang-orang tersebut. Tentu saja masih banyak lagi habitus orang-orang yang mapan secara finansial itu. Namun tiga yang telah dipaparkan di atas adalah habitus yang paling umum.
Karena itu saya bisa memastikan bahwa kawan-kawan saya yang lebih suka menampilkan gaya hidup seperti orang kaya, membiasakan diri untuk berbelanja lebih dulu dan menabung belakangan, serta senang menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan barang-barang konsumsi (gonta-ganti mobil baru tiap 1-2 tahun sekali, mengenakan pakaian-pakaian bermerek yang dibeli secara kredit, makan minum di tempat-tempat mahal, dan sebagainya), pastilah tidak akan pernah menjadi orang yang mapan secara keuangan. Orang muda yang suka foya-foya, hampir pasti akan hidup susah di usia senja. Sepasti matahari tenggelam di ufuk barat.
Kalau tak percaya, silahkan mencoba dan rasakan akibatnya![aha]
* Andrias Harefa adalah penulis 28 buku laris, inisiator dan fasilitator Pembelajar.com. Ia dapat dihubungi di: aharefa@cbn.net.id.
Sumber: www.pembelajar.com
This entry was posted
on Jumat, 04 Juli 2008
at 09.43
. You can follow any responses to this entry through the
.
0 komentar
About Me
- |Opah|
- y gt de... penuh keajaiban..., berfikir simple, bertindak konkrit, berhati lapang dan berharap ikhlas.. smoga^^!
Archives
-
▼
2008
(36)
-
▼
Juli
(36)
- Apakah Menjadi Orang Kaya Itu Sulit ?
- Cara Pintar Karyawan Jadi Investor
- Money
- Cara Menjadi Kaya
- Orang Kaya Belajar "Action"
- Simple Things Untuk Menjadi Orang Kaya
- 21 Cara Orang Kaya Berpikir Dan Bertindak Berbeda ...
- Cara Orang Kaya Berbelanja
- Cara Pintar Jadi Orang Kaya
- Jadi Orang Kaya
- Cara Kaya 5 : Tiga Ilmu Inti Menghasilkan Pasif In...
- Cara Berfikir Orang Kaya
- Bagaimana Caranya Investasi Bila Tak Punya Uang?
- Memperbanyak Uang
- Mengapa Belum Juga Kaya?
- Rahasia Uang - The Secret
- Rahasia Uang adalah Energi Magnetis
- Permainan Finansial Terbesar di Dunia Melalui Inte...
- 3 Tahap Ampuh Membangun Kekayaan
- Kesalahan Yang Menghalangi Jalan Menuju Kekayaan
- Pancinglah Rejeki dengan Memberi
- ENERGY of MONEY
- 3 Prinsip Utama dalam Ilmu Mendapatkan Kekayaan
- 5 Alasan kenapa kebanyakan Orang Tidak Kaya
- Apakah Benar Saya Bisa Menjadi Kaya?
- Gaya Hidup Orang Yang Benar-Benar Kaya
- Dari The Secret, Tentang Kekayaan
- Kebiasaan Orang Kaya
- Kesejahteraan Finansial dengan Pendekatan Spiritual
- Aktive Income VS Passive Income
- Kekuatan Pikiran untuk Meraih Kekayaan dan Kesuksesan
- 8 Profil dan Jalur Kekayaan
- Pelajaran Dari Orang-Orang Kaya Dalam Mengembangka...
- Rahasia Mencari Uang Terbesar Sepanjang Sejarah
- Kunci Rezeki
- Aku Tidak Mau Miskin
-
▼
Juli
(36)
